Berawal dari Kuliah Filologi, Hasbunallah Haris Lahirkan Novel Fiksi Sejarah Leiden 2020-1920
Jakarta, Poroskeadilan.com. — Ketertarikan terhadap naskah kuno Nusantara mengantarkan Hasbunallah Haris menjadi penulis novel fiksi sejarah berjudul Leiden 2020-1920. Ide tersebut bermula ketika Haris menempuh perkuliahan di Jurusan Sastra Arab dan mendapatkan mata kuliah Filologi.
Dari mata kuliah tersebut, Haris mulai mengenal berbagai materi tentang naskah-naskah kuno. Ia kemudian tertarik mengembangkan tema filologi menjadi sebuah karya fiksi sejarah.
Hal itu disampaikan Haris dalam acara bedah buku novel Leiden 2020-1920 yang digelar di Gramedia Matraman, Jakarta Pusat, Jumat (21/8/2026) malam.
Menurut Haris, salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah keberadaan naskah kuno Nusantara yang tersimpan di luar negeri, khususnya di Leiden, Belanda.
“Sebenarnya, mungkin ya, 10.000 naskah mungkin ada di Perpusnas, sementara di Perpustakaan Leiden itu 26.000-an naskah kuno,” ungkap Haris.
Ketertarikannya terhadap naskah kuno tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan untuk mengangkat tema filologi ke dalam sebuah karya yang lebih populer dan mudah dinikmati masyarakat.
Haris sempat memiliki gagasan untuk mengadaptasi naskah kuno menjadi film animasi. Namun, setelah melalui proses pemikiran, ia akhirnya memilih novel fiksi sejarah sebagai medium untuk menyampaikan cerita.
“Jadi naskah kuno itu diekranisasikan menjadi sebuah film animasi. Jadi waktu itu kepikiran selain dijadikan sebagai film, bisa dijadikan apalagi nih tema filologi ini. Dan akhirnya kepikiran, oh jadi novel fiksi sejarah kayaknya asyik deh,” tuturnya.
Ditulis Enam Bulan
Novel Leiden 2020-1920 ditulis Haris dalam waktu sekitar enam bulan pada 2022. Namun, novel tersebut baru diterbitkan pada 2025 dengan ketebalan lebih dari 500 halaman.
Cerita dalam novel tersebut berpusat pada karakter bernama Syamil. Selain Syamil, terdapat pula tokoh Mariati dan Kasman yang terlibat dalam petualangan di Leiden.
Menariknya, Haris memilih menempatkan tahun 2020 lebih dahulu dalam judul dibandingkan 1920. Menurutnya, pertimbangan tersebut berkaitan dengan kedekatan psikologis pembaca dengan latar waktu cerita.
“Jadi secara psikologi kita tidak terlalu jauh rentangnya. Kita pembaca mengalami tahun 2020 itu seperti apa. Daripada aku meletakkan 1920-nya yang sangat jauh sekali dari kita, itu pasti sangat berat sekali,” jelas Haris.
Cerita dalam novel tersebut terbagi menjadi tiga babak. Ketiganya memiliki benang merah yang sama, yakni sebuah naskah yang ditulis pada 1920 dan berkaitan dengan harta karun yang kembali diperebutkan pada 2020.
“Ada babak pertama, babak kedua, dan babak ketiga. Benang merahnya sama, naskah yang ditulis di tahun 1920 tentang sebuah harta karun yang kembali diperebutkan di tahun 2020,” terang alumnus UIN Imam Bonjol Padang tersebut.
Melalui Leiden 2020-1920, Haris mencoba mengemas sejarah, naskah kuno, dan petualangan dalam sebuah cerita fiksi yang diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan intelektual dan sejarah Nusantara kepada pembaca dengan cara yang lebih menarik.
Sumber: Kompas.com
Editor : Doni
🗓️ Agustus 23, 2026