DASTING UMB Hadirkan Hidroponik di Desa Sri Kuncoro, Dukung Target Desa Zero Stunting

DASTING UMB Hadirkan Hidroponik di Desa Sri Kuncoro, Dukung Target Desa Zero Stunting

👤 Oleh Redaksi
🕒 Agustus 13, 2026
🗂️ Pendidikan
Image : Program Inovasi Sosial Berbasis Komunitas DASTING (Dasawisma Tanggap Stunting) mendorong pemberdayaan masyarakat Desa Sri Kuncoro melalui budidaya hidroponik dan edukasi gizi.

Bengkulu, Poroskeadilan.com.  – Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) melalui Program Inovasi Sosial Berbasis Komunitas DASTING (Dasawisma Tanggap Stunting) mendorong pemberdayaan masyarakat Desa Sri Kuncoro melalui budidaya hidroponik dan edukasi gizi. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting menuju Desa Zero Stunting.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin Dr. Ida Samidah dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu selaku ketua tim peneliti, bersama anggota tim Eva Oktavidiati dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan Rina Aprianti dari STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

Melalui program DASTING, masyarakat, khususnya kelompok Dasawisma, mendapatkan pendampingan untuk memanfaatkan lahan terbatas sebagai sumber pangan sehat dengan teknologi hidroponik. Pendampingan mencakup pengenalan sistem hidroponik, persiapan instalasi, penyemaian benih, pemberian nutrisi, pemeliharaan tanaman hingga proses panen.

Sejumlah tanaman sayuran yang mudah dibudidayakan dikembangkan dalam program ini, di antaranya pakcoy, selada, kangkung dan berbagai jenis sayuran daun lainnya. Hasil panen diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sayuran segar keluarga.

Dr. Ida Samidah menjelaskan, hidroponik dipilih sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kemandirian pangan keluarga, terutama di tengah keterbatasan lahan.

“DASTING tidak hanya membangun instalasi hidroponik, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyediakan pangan bergizi secara mandiri. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi kebiasaan berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Selain praktik budidaya hidroponik, program DASTING juga mengintegrasikan edukasi gizi. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya konsumsi pangan yang beragam dan bergizi sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

Tim pengabdian berharap keberadaan hidroponik tidak berhenti sebagai fasilitas fisik, tetapi dapat berkembang menjadi “kebun gizi” berbasis komunitas. Hasil panen dapat menjadi sumber pangan keluarga sekaligus sarana pembelajaran mengenai keterkaitan antara produksi pangan, konsumsi makanan bergizi dan pencegahan stunting.

Dalam pelaksanaannya, kelompok Dasawisma ditempatkan sebagai salah satu aktor utama pemberdayaan masyarakat. Anggota Dasawisma tidak hanya dibekali keterampilan teknis hidroponik, tetapi juga didorong meningkatkan kemampuan dalam pembagian tugas, pengelolaan kegiatan, pencatatan serta keberlanjutan program.

“Target kami bukan sekadar membangun instalasi hidroponik. Yang lebih penting adalah membangun kapasitas masyarakat agar mereka mampu mengelola, merawat, memanfaatkan dan mengembangkan program secara mandiri. Karena itu, pemberdayaan Dasawisma menjadi bagian penting dari DASTING,” jelas Dr. Ida Samidah.

Program ini juga diharapkan membuka peluang bagi anggota Dasawisma untuk memiliki keterampilan baru dalam mengelola kebun keluarga. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi secara bertahap mampu mengelola dan mengembangkan instalasi hidroponik secara mandiri.

Melalui DASTING, UMB bersama mitra berupaya mendorong Dasawisma menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan ketahanan pangan, literasi gizi dan kesehatan keluarga.

Program tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Sri Kuncoro. Keberlanjutan pengelolaan urban farming berbasis masyarakat menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun kemandirian pangan keluarga sekaligus mendukung upaya mewujudkan Desa Sri Kuncoro menuju Desa Zero Stunting.

Editor : Doni