Laporan Coursera 2026: Skill Kini Lebih Dicari Perusahaan daripada IPK dan Nama Kampus

Laporan Coursera 2026: Skill Kini Lebih Dicari Perusahaan daripada IPK dan Nama Kampus

👤 Oleh Redaksi
🕒 Juli 11, 2026
🗂️ NEWS
Image : Gelar kuliah dan indeks prestasi kumulatif (IPK) mulai kehilangan perannya sebagai penentu utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

Jakarta, Poroskeadilan.com. – Gelar kuliah dan indeks prestasi kumulatif (IPK) mulai kehilangan perannya sebagai penentu utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan (skills) yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti IPK maupun nama perguruan tinggi.

Temuan tersebut terungkap dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026 ya2ng diterbitkan Coursera. Laporan itu menunjukkan sebanyak 98 persen perusahaan di tujuh negara telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skills-based hiring) untuk posisi entry level. Bahkan, 86 persen di antaranya mengaku telah menerapkan pendekatan tersebut secara luas.

Coursera mencatat, sebanyak 95 persen pemberi kerja menilai micro credentials menjadi pembeda utama di antara para kandidat. Sementara itu, 87 persen responden menyebut sertifikasi keterampilan tersebut sangat penting dalam proses pengambilan keputusan perekrutan, bahkan melampaui pertimbangan IPK maupun asal perguruan tinggi.

Perubahan pola rekrutmen tersebut juga mulai berdampak pada kebijakan kompensasi perusahaan. Sebanyak 94 persen pemberi kerja menyatakan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi kepada lulusan yang memiliki micro credentials sebagai bukti kompetensi.

Menurut Coursera, kebutuhan dunia kerja yang berubah dengan cepat membuat perusahaan semakin membutuhkan kandidat yang mampu menunjukkan keterampilan yang relevan dan siap diterapkan di lingkungan kerja.

Laporan itu juga mengungkapkan, sebanyak 61 persen pemberi kerja memperkirakan lebih dari 30 persen keterampilan inti dalam berbagai jenis pekerjaan akan mengalami perubahan sebelum tahun 2030. Kondisi tersebut mendorong pekerja dan pencari kerja untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berkelanjutan dan sertifikasi keterampilan yang diakui industri.

JAKARTA – Gelar kuliah dan indeks prestasi kumulatif (IPK) mulai kehilangan perannya sebagai penentu utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan (skills) yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti IPK maupun nama perguruan tinggi.

Temuan tersebut terungkap dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan Coursera. Laporan itu menunjukkan sebanyak 98 persen perusahaan di tujuh negara telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skills-based hiring) untuk posisi entry level. Bahkan, 86 persen di antaranya mengaku telah menerapkan pendekatan tersebut secara luas.

Coursera mencatat, sebanyak 95 persen pemberi kerja menilai micro credentials menjadi pembeda utama di antara para kandidat. Sementara itu, 87 persen responden menyebut sertifikasi keterampilan tersebut sangat penting dalam proses pengambilan keputusan perekrutan, bahkan melampaui pertimbangan IPK maupun asal perguruan tinggi.

Perubahan pola rekrutmen tersebut juga mulai berdampak pada kebijakan kompensasi perusahaan. Sebanyak 94 persen pemberi kerja menyatakan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi kepada lulusan yang memiliki micro credentials sebagai bukti kompetensi.

Menurut Coursera, kebutuhan dunia kerja yang berubah dengan cepat membuat perusahaan semakin membutuhkan kandidat yang mampu menunjukkan keterampilan yang relevan dan siap diterapkan di lingkungan kerja.

Laporan itu juga mengungkapkan, sebanyak 61 persen pemberi kerja memperkirakan lebih dari 30 persen keterampilan inti dalam berbagai jenis pekerjaan akan mengalami perubahan sebelum tahun 2030. Kondisi tersebut mendorong pekerja dan pencari kerja untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berkelanjutan dan sertifikasi keterampilan yang diakui industri.

Editor : Doni.