Polri Perkuat Nilai Tribrata dan Catur Prasetya Hadapi Era Disrupsi Digital
Jakarta, Poroskeadilan.com. Polri menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya sebagai kompas etika dalam menghadapi tantangan era disrupsi digital dan keterbukaan informasi. Penegasan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Tribrata dan Catur Prasetya sebagai Kompas Etika Polri Presisi di Era Disrupsi Digital dan Keterbukaan Informasi” yang digelar di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional sebagai narasumber, di antaranya cendekiawan Dr. Yudi Latif, M.A., Ph.D., pakar pengembangan sumber daya manusia Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, serta Kepala Pusat Sejarah (Kapusjarah) Polri Brigjen Pol Abas Basuni, S.I.K., M.H.
Dialog kebangsaan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus wadah refleksi mengenai pentingnya etika, integritas, dan profesionalisme dalam mendukung transformasi Polri menuju institusi yang modern dan dipercaya masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Yudi Latif menekankan bahwa kepercayaan publik merupakan modal utama bagi institusi kepolisian dalam menjalankan perannya sebagai penjaga ketertiban sipil dan keutuhan negara.
“Untuk negara majemuk seperti Indonesia yang begitu luas, modal terpenting dalam menjaga publik dan menjaga republik ini adalah kepercayaan. Dan inti dari kepercayaan, sebagai perekat utamanya, adalah etika,” ujar Yudi Latif.
Menurutnya, penguatan etika harus terus dilakukan secara konsisten agar Polri mampu mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, Ary Ginanjar Agustian mengapresiasi langkah Polri yang membuka ruang dialog dengan melibatkan pihak eksternal dalam memberikan masukan dan perspektif objektif terhadap upaya pembenahan institusi.
Ary menilai, untuk mewujudkan Polri sebagai institusi kepolisian berkelas dunia menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan tiga pilar utama, yakni right people, right system, dan right values.
“Melalui konsep tiga pilar tersebut, yaitu right people, right system, dan right values, maka akan lahir Polri yang bermoral dan berkelas dunia,” katanya.
Ia juga mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan tingginya semangat perubahan di lingkungan Polri.
“Ternyata dorongan anggota Polri untuk maju dan berubah mencapai hampir 95 persen. Ini menunjukkan bahwa Polri memiliki energi yang sangat besar untuk terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” ungkap Ary.
Sementara itu, Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., M.I.Kom., menjelaskan bahwa dialog kebangsaan tersebut bertujuan memperkuat internalisasi nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya sebagai pedoman etika serta perilaku seluruh anggota Polri.
Menurutnya, berbagai gagasan, hasil riset, dan masukan dari para narasumber menjadi bekal penting dalam mendukung proses transformasi Polri agar semakin profesional, modern, dan dekat dengan masyarakat.
“Kami terbuka terhadap masukan, tidak anti kritik, dan terus berupaya mendorong perubahan sosial yang lebih baik,” tegas Trunoyudo.
Melalui kegiatan ini, Polri menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat nilai-nilai dasar kepolisian sebagai fondasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks di era digital.
Jakarta – Polri menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya sebagai kompas etika dalam menghadapi tantangan era disrupsi digital dan keterbukaan informasi. Penegasan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Tribrata dan Catur Prasetya sebagai Kompas Etika Polri Presisi di Era Disrupsi Digital dan Keterbukaan Informasi” yang digelar di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional sebagai narasumber, di antaranya cendekiawan Dr. Yudi Latif, M.A., Ph.D., pakar pengembangan sumber daya manusia Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, serta Kepala Pusat Sejarah (Kapusjarah) Polri Brigjen Pol Abas Basuni, S.I.K., M.H.
Dialog kebangsaan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus wadah refleksi mengenai pentingnya etika, integritas, dan profesionalisme dalam mendukung transformasi Polri menuju institusi yang modern dan dipercaya masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Yudi Latif menekankan bahwa kepercayaan publik merupakan modal utama bagi institusi kepolisian dalam menjalankan perannya sebagai penjaga ketertiban sipil dan keutuhan negara.
“Untuk negara majemuk seperti Indonesia yang begitu luas, modal terpenting dalam menjaga publik dan menjaga republik ini adalah kepercayaan. Dan inti dari kepercayaan, sebagai perekat utamanya, adalah etika,” ujar Yudi Latif.
Menurutnya, penguatan etika harus terus dilakukan secara konsisten agar Polri mampu mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, Ary Ginanjar Agustian mengapresiasi langkah Polri yang membuka ruang dialog dengan melibatkan pihak eksternal dalam memberikan masukan dan perspektif objektif terhadap upaya pembenahan institusi.
Ary menilai, untuk mewujudkan Polri sebagai institusi kepolisian berkelas dunia menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan tiga pilar utama, yakni right people, right system, dan right values.
“Melalui konsep tiga pilar tersebut, yaitu right people, right system, dan right values, maka akan lahir Polri yang bermoral dan berkelas dunia,” katanya.
Ia juga mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan tingginya semangat perubahan di lingkungan Polri.
“Ternyata dorongan anggota Polri untuk maju dan berubah mencapai hampir 95 persen. Ini menunjukkan bahwa Polri memiliki energi yang sangat besar untuk terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” ungkap Ary.
Sementara itu, Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., M.I.Kom., menjelaskan bahwa dialog kebangsaan tersebut bertujuan memperkuat internalisasi nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya sebagai pedoman etika serta perilaku seluruh anggota Polri.
Menurutnya, berbagai gagasan, hasil riset, dan masukan dari para narasumber menjadi bekal penting dalam mendukung proses transformasi Polri agar semakin profesional, modern, dan dekat dengan masyarakat.
“Kami terbuka terhadap masukan, tidak anti kritik, dan terus berupaya mendorong perubahan sosial yang lebih baik,” tegas Trunoyudo.
Melalui kegiatan ini, Polri menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat nilai-nilai dasar kepolisian sebagai fondasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks di era digital.
Editor : Doni