Harga Sawit Anjlok, Petani Mukomuko Kebingungan karena Toke Tahan Pembelian

Harga Sawit Anjlok, Petani Mukomuko Kebingungan karena Toke Tahan Pembelian

👤 Oleh Redaksi
🕒 Mei 23, 2026
🗂️ Mukomuko

Image: Harga Sawit Anjlok, Petani Mukomuko Kebingungan karena Toke Tahan Pembelian

 

MUKOMUKO, Poroskeadilan.com.  – Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang telah matang dan siap dipanen kini hanya menggantung di pohon. Para petani di Kabupaten Mukomuko terpaksa menunggu kepastian pembeli yang tak kunjung datang di tengah harga sawit yang terus mengalami penurunan.

Turunnya harga sawit membuat sejumlah toke memilih menahan pembelian karena kondisi pasar dinilai belum stabil. Situasi tersebut dirasakan langsung oleh Maesa, pemilik kebun sawit seluas lima hektare di Mukomuko.

Menurutnya, jadwal panen di kebunnya sebenarnya sudah tiba. Buah sawit yang telah cukup umur seharusnya segera dipanen agar kualitasnya tetap terjaga. Namun hingga kini, ia belum berani memanen seluruh hasil kebunnya karena toke langganannya belum bersedia membeli TBS.

“Sekarang kami serba bingung. Buah sudah matang, jadwal panen sudah sampai, tapi toke belum mau beli karena harga belum stabil. Harga sawit juga terus turun, bahkan sekarang sudah di bawah Rp2.000 per kilogram,” ujar Maesa saat ditemui di kebunnya, Jumat pagi (22/05/2026).

Bagi petani sawit, kondisi tersebut bukan hanya persoalan harga rendah. Keterlambatan panen dapat menyebabkan kualitas buah menurun sehingga berdampak pada semakin rendahnya harga jual.

Di sisi lain, biaya perawatan kebun tetap harus berjalan. Mulai dari pembelian pupuk, pembersihan lahan, hingga ongkos tenaga panen tetap menjadi beban yang harus ditanggung petani.

Maesa mengaku pendapatan petani saat ini semakin tidak menentu. Ia khawatir apabila kondisi tersebut berlangsung lama, karena banyak petani kecil di Mukomuko yang menggantungkan kebutuhan hidup sehari-hari dari hasil perkebunan sawit.

“Kami berharap dari sawit untuk kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, dan kebutuhan lainnya. Kalau buah tidak dibeli, kami juga kesulitan,” katanya.

Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga sawit dan memastikan penyerapan hasil panen petani kembali berjalan normal agar roda perekonomian masyarakat tidak semakin terpuruk.

Pewarta: Nurul

Editor: Doni